welcome in my blog
Silahkan cari blog disini okay...
Ketika aku memandangi cermin pagi ini,
Ku dapati tubuh seorang pemuda yang berdiri dengan senyum simpul manis,
Laksana orang sekitar kan mengira bahwa pemuda ini senantiasa selalu bahagia.
Air muka tampak cerah, dengan ramput disisir rapi menyatu bak kutub utara dan kutub selatan dipertemukan tepat ditengah-tengah garis khatulistiwa.
Serta pakaian yang terjuntai rapi, penuh pesona keharuman parfum khas woody yang lembut dan citrus yang kuat.
Itulah mungkin sekilas gambaran pemuda yang tampak bahagia menjalani kehidupannya hari ini.
***********************
Dibalik itu semua,
terdapat bermacam-macam kekelaman warna-warna gelap menyelimuti hatinya.
Ada rasa keragu-raguan untuk melangkahkan kaki menembus garis waktu yang membentang didepan,
Semua indera terasa memberontak serentak,
Mata yang teringin redup karena merasa tajamnya sang surya menyapanya secara langsung,
Telinga yang memohon belas kasih kedua tangan untuk segera terjun langsung membantu mengheningkan suara orang-orang yang berbisik-bisik dari celah-celah yang entah diketahui.
Hidung yang terus menerus memainkan irama aliran udara untuk mengatur ritme nafas secara teratur.
Serta mulut yang senantiasa meredam rasa haus akan teriakan dan menguncinya jauh kedalam dasar secara rapat-rapat.
***********************
Aku tahu ini sulit,
mencoba melangkah ke depan, namun aku tahu dunia tidak semudah itu menerimaku.
Mencoba untuk membuat jalur hubungan-hubungan yang baru,
namun aku terlalu kaku untuk itu semua.
Sahabat baik yang dulu sangat dekat, baik secara jarak maupun komunikasi.
Seiring berjalannya waktu, menemukan dan mempersatukan orang yang baru.
Kini ketika dipertemukan dan berhadapan kembali, aku merasa seperti orang asing yang sulit untuk menjangkaunya dan tak banyak cerita yang bisa ku bagikan lagi padanya.
Entahlah....
Sekarang aku sudah tidak memiliki orang yang akan ku ajak berjalan disampingku untuk memutari dunia dan waktu ini.
Ibarat seseorang yang akan membeli barang,
mereka tidak akan mau membeli barang yang rusak atau memiliki kecacatan pada fisiknya,
Jikalau pun mereka terlanjur membelinya,
Maka barang itu akan dikembalikan ke tokonya, atau mungkin dipergunakan secara sembarangan dan tidak dirawat dan disayangi seperti barang yang memiliki bentuk dan fungsi yang seutuhnya.
Tapi setidaknya barang rusak ini tidak membuat kerusakan dan ketidakbahagiaan pada orang-orang sekitarnya.
Keesokan paginya, kami mulai berwacana rencana
Apa-apa yang harus dipersiapkan dan diurus
Mulai dari travel, surat izin dokter, dan pastinya surat cuti kantor
Dimulai dari Travel,
Kami memutuskan untuk menggunakan jasa travel yang pernah digunakan oleh kakak,
travel yang dipandu oleh ustadz Zulkarnain,
Setelah itu, aku beserta keluarga lainnya mulai mengurus syarat-syarat untuk keberangkatan,
Mulai dari pasport hingga suntik meningitis di RS Pelabuhan,
yang terletak dijalan menuju arah bandara tanjung siapi-api.
Di RS Pelabuhan ini, dokter mulai memberi suntikan sambil mewawancarai
beliau bilang kalau vaksin ini baru mulai bekerja setelah satu bulan,
lalu dokter pun berkata bahwa untuk bisa pergi umroh HB darah minimal harus 8
*****************
Di Sore hari yang lumayan terik,
Aku melakukan konsultasi bulanan ke dokter penyakit dalam di RS Charitas,
Sembari meminta saran untuk keberangkatan umroh ini,
serta meminta dilakukan check up darah untuk melihat kadar HB serta kondisi tubuh lainnya.
Setelah hasil keluar, ternyata HB ku di range 6
Nilai yang tidak memenuhi standar untuk dapat melakukan perjalanan ini.
Dokter pun mulai merujuk untuk segera dilakukan donor darah,
dan keesokan harinya aku pun di Opname.
Selama dirumah sakit sekitar 5 harian,
tubuh ini sudah menerima darah para calon penghuni surga yang sudah berbaik hati mendermakan darahnya sebanyak 3 kantong
****************
Selama di Opname,
aku berkonsultasi juga dengan pihak Kalbe yang menjadi pensuply cairan obat selama ini,
usut punya usut, ternyata dari kalbe belum pernah pernah ada pasien CAPD seperti aku,
yang berhasil membawa cairan obat berpuluh-puluh kilo menuju ke tanah suci.
Mereka mulai menceritakan pengalaman sebelum-sebelumnya,
bahwa ada juga orang berkebutuhan khusus seperti aku di Riau yang akan melaksanakan perjalanan spiritual ini,
namun dari pihak maskapai, obat tersebut ditahan karena takut mengalami kebocoran,
karena media pembungkusnya masih menggunakan kardus yang rawan terhadap benturan.
dan Alhamdulillahnya dengan izin Allah,
perjalananku seperti dipermudah.
dengan keberangkatan keluarga yang berjumlah 9 orang,
ditambah pihak travel yang benar-benar telaten dan peduli,
masalah obat yang berpuluh-puluh kilo ini pun bisa teratasi.
****************
Tibalah pada tanggal 13 Maret 2018,
akupun diizinkan pulang dari rumah sakit,
dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan jauh lusa harinya pada tanggal 15 Maret 2018
Kisah ini bermula saat aku duduk dikursi putar kantor sambil mengerjakan tugas rutin seperti biasanya,
Tiba-tiba pak manajer yang baru pulang dari umroh, masuk ke ruang TU sambil membagikan oleh-oleh berupa kurma, kacang arab, kismis, dan sebotol kecil berisikan air zam-zam ( oleh-oleh yang sangat lazim dibagikan oleh orang yang baru pulang dari tanah suci ).
Serta sebuah gamis coklat yang terlipat rapi dalam sebuah plastik
Dalam ruangan itu, bergema secara lantang kisah-kisah pak manajer selama di tanah suci.
Riuh rendah nada bicara, menambah dinamika keseruan kisah perjalanan.
Beliau pun berkata, "Sebenarnya banyak orang yang kaya dan punya harta, dikasih kesehatan, tapi belum tergerak hatinya untuk pergi umroh".
"Ada yang kaya dan punya harta, tergerak hati untuk pergi, namun sakit".
"Dan ada pula yang sehat, tergerak hati untuk pergi, tapi tidak mampu secara finansial".
"Nah, bagi kalian yang muda-muda, uang punya, sehat iya, tinggal gerakkan hati dan kuatkan tekad untuk pergi. Mumpung belum dibalikkan keadaan oleh Allah".
"kita semua yang umat muslim itu sebenarnya sudah mendapat panggilan dan diundang Allah ke Tanah suci".
Mendengar ucapan itu, ada secuil hati berkeinginan untuk pergi.
Mungkin sekitar 20% tekat, permulaan untuk membuka pintu hati.
***
Setiba pulang ke rumah,
aku menceritakan apa yang diceritakan pak manajer dikantor tadi.
Kakak pun langsung menyahut, "Pergi saja, jangan takut miskin karena umroh, insyaallah Allah kasih rezeki berlipat setelah pulang".
Singkat cerita, kakakku baru juga pulang umroh beberapa bulan yang lalu.
Entah ada angin apa, tiba-tiba mendadak memutuskan untuk pergi sendiri, mungkin ini adalah sebuah panggilan.
dan setelah kepulangannya dari umroh, dia terlihat berbeda.
Lebih religius, suka menghamburkan hartanya untuk sedekah, dan rezekinya juga makin berlimpah.
Bisnisnya lancar meroket dan dipertemukan dengan jodohnya didepan kabah ( insyaallah ), yang merupakan teman seperjalanannya saat pergi umroh.
Lalu ada telepon dari ayuknya ibu ( kakak perempuan ibu ) yang berhasil menjual tanahnya didusun, dan berencana untuk pergi umroh.
Seketika pikiranku meloncat jauh, mending aku umrohkan saja ayah dan ibu, mumpung ada temen biar rame.
Mereka antusias, namun seketika pula berdiskusi singkat namun cepat, lalu memutuskan hanya satu saja yang pergi umroh duluan, apakah ayah dulu atau ibu dulu.
Mengapa mereka tidak pergi berdua sekaligus, itu karena mereka mengkhawatirkan anaknya yang sakit ini.
Rasa hati ini rasanya perih tercekik,
cuma gara-gara aku mereka harus pergi secara terpisah.
Rasanya diri ini cuma menjadi beban.
***
Malam itu entah ada angin apa,
sebelum tidur aku merasakan ada tekad kuat menggema-gema didalam kepala.
dan keesokkan harinya, aku lantang bicara didepan ayah ibu bahwa aku akan ikut serta Umroh.
Keputusan yang sulit untuk seorang yang berkebutuhan khusus sepert aku.