welcome in my blog
Silahkan cari blog disini okay...
Kisah ini bermula saat aku duduk dikursi putar kantor sambil mengerjakan tugas rutin seperti biasanya,
Tiba-tiba pak manajer yang baru pulang dari umroh, masuk ke ruang TU sambil membagikan oleh-oleh berupa kurma, kacang arab, kismis, dan sebotol kecil berisikan air zam-zam ( oleh-oleh yang sangat lazim dibagikan oleh orang yang baru pulang dari tanah suci ).
Serta sebuah gamis coklat yang terlipat rapi dalam sebuah plastik
Dalam ruangan itu, bergema secara lantang kisah-kisah pak manajer selama di tanah suci.
Riuh rendah nada bicara, menambah dinamika keseruan kisah perjalanan.
Beliau pun berkata, "Sebenarnya banyak orang yang kaya dan punya harta, dikasih kesehatan, tapi belum tergerak hatinya untuk pergi umroh".
"Ada yang kaya dan punya harta, tergerak hati untuk pergi, namun sakit".
"Dan ada pula yang sehat, tergerak hati untuk pergi, tapi tidak mampu secara finansial".
"Nah, bagi kalian yang muda-muda, uang punya, sehat iya, tinggal gerakkan hati dan kuatkan tekad untuk pergi. Mumpung belum dibalikkan keadaan oleh Allah".
"kita semua yang umat muslim itu sebenarnya sudah mendapat panggilan dan diundang Allah ke Tanah suci".
Mendengar ucapan itu, ada secuil hati berkeinginan untuk pergi.
Mungkin sekitar 20% tekat, permulaan untuk membuka pintu hati.
***
Setiba pulang ke rumah,
aku menceritakan apa yang diceritakan pak manajer dikantor tadi.
Kakak pun langsung menyahut, "Pergi saja, jangan takut miskin karena umroh, insyaallah Allah kasih rezeki berlipat setelah pulang".
Singkat cerita, kakakku baru juga pulang umroh beberapa bulan yang lalu.
Entah ada angin apa, tiba-tiba mendadak memutuskan untuk pergi sendiri, mungkin ini adalah sebuah panggilan.
dan setelah kepulangannya dari umroh, dia terlihat berbeda.
Lebih religius, suka menghamburkan hartanya untuk sedekah, dan rezekinya juga makin berlimpah.
Bisnisnya lancar meroket dan dipertemukan dengan jodohnya didepan kabah ( insyaallah ), yang merupakan teman seperjalanannya saat pergi umroh.
Lalu ada telepon dari ayuknya ibu ( kakak perempuan ibu ) yang berhasil menjual tanahnya didusun, dan berencana untuk pergi umroh.
Seketika pikiranku meloncat jauh, mending aku umrohkan saja ayah dan ibu, mumpung ada temen biar rame.
Mereka antusias, namun seketika pula berdiskusi singkat namun cepat, lalu memutuskan hanya satu saja yang pergi umroh duluan, apakah ayah dulu atau ibu dulu.
Mengapa mereka tidak pergi berdua sekaligus, itu karena mereka mengkhawatirkan anaknya yang sakit ini.
Rasa hati ini rasanya perih tercekik,
cuma gara-gara aku mereka harus pergi secara terpisah.
Rasanya diri ini cuma menjadi beban.
***
Malam itu entah ada angin apa,
sebelum tidur aku merasakan ada tekad kuat menggema-gema didalam kepala.
dan keesokkan harinya, aku lantang bicara didepan ayah ibu bahwa aku akan ikut serta Umroh.
Keputusan yang sulit untuk seorang yang berkebutuhan khusus sepert aku.
Perubahan,
sesuatu yang tak bisa dicegah,
dan pada akhirnya pasti terjadi.
Awal yang ku pikir akan indah,
namun terasa asing pada akhirnya.
Pertama aku mulai menerima perubahan-perubahan,
namun lama kelamaan perubahan-perubahan ini merubah semuanya,
merubah dia, aku, dan sekitar.
Aku yang menjadi saya,
Kau yang menjadi kamu,
dan seorang kiay menjadi seorang mamas.
terasa asing.
Aku pikir metamorfosis seorang teman yang berubah menjadi kekasih akan lebih baik,
namun justru status itu yang menjadikan aneh.
Tak ada ruang sendiri,
Seperti lirik yang dinyanyikan Tulus,
"Beri aku kesempatan tuk bisa merindukanmu ( jangan datang terus )"
"Tak lagi sepi bisa ku hargai"
Mulai dari pesan yang datang bertubi-tubi,
pertanyaan-pertanyaannya,
rasa keingintahuannya,
rasa memilikinya,
hingga kehadirannya.
Aku rindu dia saat menjadi teman,
aku rindu dia saat bersikap wajar dan natural,
aku tidak suka sifat yang terlalu berlebihan.
Terlalu peduli,
Terlalu khawatir,
Terlalu ingin tahu hingga mendasar,
Seperti terkekang dan tak ada ruang privasi,
Seperti tahanan kota yang terlacak seluruh aktivitasnya.
Aku juga kecewa jika aku bercerita pada satu orang,
namun pada akhirnya cerita itu malah menjadi konsumsi publik.
hingga pada akhirnya apa yang aku ceritakan menjadi gonjang ganjing yang terlalu dilebih-lebihkan.
Ada kondisi dimana seorang pria ingin terlihat kuat dan tegar dimata wanita,
bukan diperlakukan seperti orang lemah dan pesakitan yang terus-terusan dipaksa minum obat.
ku mohon jangan.
Jangan pernah memiliki rasa ingin memiliki yang teramat besar,
karena pada akhirnya, pasir yang kau genggam terlalu erat akan menghilang melalui celah-celah jari.
Jangan cinta orang terlalu berlebihan, karena yang berlebihan itu tidaklah baik.
Cintai dia dengan wajar.
Itulah kenapa aku tidak terlalu menyukai konsep berpacaran,
karena ia akan merubah sifat dasar seseorang.
Aku lebih menyukai konsep pertemanan,
hingga menjadi teman hidup yang berjalan ke masa depan dengan sewajarnya.
Ketika teman-temanmu mulai berkata,
"Kamu berubah setelah berpacaran"
itu tandanya, kau telah keluar dari konsep pertemanan.
dan itu adalah tanda-tanda perubahan.
Aku dan kamu berteman,
sedari kecil kita berteman,
kemudian kita dewasa, kita masih berteman.
Berteman denganmu itu menyenangkan,
hingga aku tak sadar, aku menyukaimu,
sebagai teman.
Dan kau pun begitu,
kau menyukaiku, sebagai teman.
Lalu, teman-teman disekitar kita mulai menemukan orang lain,
dan menjalin pertemanan baru.
Hanya kita yang masih berteman,
Mereka mengubah status dari berteman menjadi kekasih,
hingga akhirnya menjadi pasutri.
dan dikaruniai beberapa orang anak.
Dan kita disini, masih begini.
masih dalam status teman.
Aku menyukaimu, dan aku ingin berteman.
Hanya berteman.
Aku tak akan menjadi kekasihmu,
atau orang yang mengaturmu,
atau yang melarangmu,
atau yang merubahmu.
Aku hanya ingin berjalan bersamamu,
sebagai teman.
Aku hanya ingin hidup menua bersamamu,
sebagai teman.
Hingga aku pergi lebih dulu, sebagai temanmu.
Karena Aku hanya ingin menjadi TEMAN HIDUPMU.
Lalu di alam setelah kematian,
Tuhan mempertemukan kita kembali sebagai TEMAN ABADI